Dompetku sekarang tipis sekali, mungkin sedang diet juga. Setiap dibuka, isinya hanya struk belanja dan harapan. Uang seperti tamu undangan, datang sebentar lalu pergi tanpa pamit. Aku sampai menyapa kartu debit, siapa tahu dia merasa dihargai.
Aku ikut kelas https://staging-test-easys.stroeer.de/ yoga online supaya lebih tenang. Instruktur bilang tarik napas dalam dan lepaskan beban pikiran. Yang terlepas justru koneksi internet. Pose paling sulit ternyata bukan pohon, tapi pose menahan emosi saat sinyal tiba tiba menghilang.
Pagi ini aku Dominoqq bangun dengan niat olahraga, tapi kasur memelukku lebih erat dari mantan yang belum move on. Akhirnya aku kompromi: olahraga jari buat scroll media sosial. Katanya keseimbangan itu penting, jadi aku seimbangkan niat sehat dengan rebahan penuh dedikasi dan cemal cemil.
Temanku Ratuqq bilang diet itu mudah, tinggal kurangi makan. Masalahnya aku tidak tahu harus mulai dari makan yang mana. Sarapan penting, makan siang tradisi, makan malam romantis dengan nasi hangat. Akhirnya yang dikurangi cuma harapan berat badan turun sebelum lebaran.
Aku mencoba http://sliontec.maxell.co.jp/dominoqq/ hidup sehat dengan minum jus hijau. Rasanya seperti rumput yang punya cita cita jadi minuman. Setelah satu teguk, aku sadar kenapa sapi terlihat pasrah. Sejak itu aku kembali ke air putih, yang setidaknya tidak membuatku merasa sedang merumput di taman kota.
Alarm pagi berbunyi seperti sirene kiamat kecil di kamar. Aku pencet tunda dengan keyakinan lima menit cukup. Ternyata lima menit versi alarm itu seperti diskon palsu, kelihatannya sebentar tapi ujungnya satu jam lenyap tanpa jejak dan aku tetap terlambat.
Aku mencoba bangun lebih pagi supaya produktif. Hasilnya memang bangun lebih pagi, lalu bingung mau ngapain. Akhirnya duduk menatap dinding sambil merasa seperti tokoh utama film yang menunggu inspirasi, padahal cuma menunggu kantuk datang lagi.
Masak sendiri itu katanya hemat. Setelah gagal tiga kali, dapurku terlihat seperti lokasi syuting acara eksperimen sains. Panci gosong jadi saksi perjuangan. Pada akhirnya aku pesan makanan online dan pura pura bilang itu strategi efisiensi waktu.
Aku pernah mencoba meditasi untuk mengosongkan pikiran. Lima detik pertama berhasil. Detik keenam muncul daftar belanja, cicilan, dan kenangan memalukan waktu kelas tiga. Ternyata pikiranku seperti pasar malam, selalu ramai meski sudah disuruh tutup.
Hujan turun deras saat aku lupa membawa payung. Aku berlari dengan gaya seperti atlet olimpiade, hanya saja cabangnya panik basah kuyup. Sampai rumah, sepatu berbunyi setiap langkah. Setidaknya sekarang aku punya efek suara sendiri.
Teman bilang percaya diri itu kunci sukses. Jadi aku masuk rapat dengan penuh keyakinan. Lima menit kemudian aku sadar file presentasi tertinggal. Percaya diri mendadak berubah jadi improvisasi tingkat dewa yang isinya lebih banyak senyum daripada data.
Aku mencoba menabung dengan aplikasi keuangan. Grafiknya cantik, warnanya menenangkan, tapi saldonya seperti sedang main petak umpet. Setiap akhir bulan aku mencarinya sambil bertanya, siapa yang menghabiskan? Jawabannya selalu aku, dengan wajah polos.
Katanya tidur cukup bikin awet muda. Aku tidur cepat, bangun segar, lalu lihat cermin. Wajah tetap sama, cuma rambut makin susah diatur. Mungkin yang awet muda itu cuma teori. Tapi setidaknya aku punya alasan untuk rebahan lebih lama.
Aku belajar masak dari video singkat yang terlihat mudah. “Tinggal aduk sampai rata,” katanya. Nyatanya adonan menempel di mana mana kecuali di loyang. Dapur berubah jadi karya seni abstrak, dan aku jadi kurator yang menyerah sebelum pameran.
Saat belanja online, aku merasa seperti investor cerdas. Diskon lima puluh persen membuatku yakin sedang menyelamatkan masa depan. Padahal yang diselamatkan cuma perasaan senang sesaat. Paket datang, dompet menangis pelan di sudut kamar.
Aku mencoba minum kopi tanpa gula supaya lebih dewasa. Tegukan pertama terasa seperti keputusan hidup yang terlalu pahit. Akhirnya aku tambahkan gula diam diam. Dewasa boleh, tapi bahagia tetap prioritas, meski harus sedikit manis.
Hari Senin selalu datang dengan energi antagonis utama. Aku datang ke kantor dengan langkah berat seperti tokoh drama. Kopi jadi sidekick setia yang menyelamatkan adegan. Tanpa kopi, mungkin aku sudah mengajukan cuti permanen.
Aku ikut tantangan minum dua liter air sehari. Hasilnya aku jadi akrab sekali dengan kamar mandi. Setiap jam seperti reuni kecil. Positifnya, aku jadi tahu jarak tercepat dari meja kerja ke toilet dengan presisi atlet profesional.
Ponselku sering bilang memori hampir penuh. Rasanya seperti sindiran halus tentang hidupku juga. Terlalu banyak foto makanan, terlalu sedikit foto olahraga. Aku hapus beberapa file, tapi tetap tidak menghapus kebiasaan pesan camilan tengah malam.
Aku mencoba berpikir positif setiap hari. Saat macet panjang, aku bilang ini latihan sabar. Saat kehabisan uang, ini latihan hemat. Jika hidup adalah ujian, setidaknya aku sudah lulus mata pelajaran humor, meski remedial di keuangan.